Social Media oh Social Media..

Intro,
‘Buku adalah jendela dunia’, itu adalah ungkapan yang kerap anda dengar, namun dewasa ini agaknya ungkapan tersebut ‘bergeser’ menjadi ‘Internet adalah jendela dunia’. Yup, internet telah menjadi hal yang bisa ditemui kapanpun, dimanapun sekarang. Banyak hal yang bisa diakses melalui internet, mulai dari berita, foto, chat, video, audio dan lainnya. Internet tidak lagi menjadi hal yang mewah layaknya beberapa tahun silam. Mulai dari memasang fasilitas internet pribadi hingga mendapat akses internet gratis memakai wi-fi yang biasanya bisa didapatkan di tempat-tempat umum. Dari sekian banyak hal yang bisa diakses melalui internet, yang paling populer adalah Social Media.

Apa itu social media?
Pada dasarnya berkomunikasi dan berinteraksi adalah hal yang paling disukai dan dibutuhkan oleh manusia. Manusia adalah mahkluk sosial yang tentu saja membutuhkan interaksi dalam kesehariannya.
Menurut Wikipedia Social Media adalah sebuah teknologi berbasis web dan mobile yang digunakan untuk mengaktifkan komunikasi ke dalam dialog interaktif diantara organisasi, masyarakat, dan individu.
Menurut Kaplan and Haenlein ada 6 tipe social media yaitu, Collaborative Projects (ex : Wikipedia), Blogs & Microblogs (ex : WordPress, Twitter), Content Communities (ex : YouTube, Soundcloud), Social Networking Sites (ex : Facebook), Virtual Game Worlds (ex : World of Warcraft, Mafia Wars) dan Virtual Social Worlds (ex : Second Life). Dari keenam tipe social media tersebut yang paling banyak diminati adalah Blog, Content Communities, Social Networking dan Virtual Game.
Sebuah statistik (sumber http://blog.tweetsmarter.com) menyebutkan sampai Mei 2012 jumlah pengguna Social Media di seluruh dunia adalah Facebook 901jt, Twitter 555jt, Google+ 170jt. Untuk contoh persentase kisaran umur pengguna Facebook adalah 13-17 tahun (11%), 18-25 tahun (29%), 26-34 tahun (23%), 35-44 tahun (12%) dan +55 tahun (7%).
Bisa dibayangkan, berapa status diupdate tiap menitnya di Facebook, berapa jumlah tweet tiap menitnya? Mari kita persempit menjadi Musisi sebagai study case-nya. Bagi sebagian besar musisi, Facebook, Twitter, Myspace, LastFM, Sounscloud, Reverbnation dan Youtube adalah nama-nama yang ‘akrab’ dengan kehidupn sehari-hari mereka.
‘Guys likes page kami’, ‘Silahkan unduh karya kami di ….’, ‘Follow twitter kami guys’ dll. adalah contoh tagline yang bisa ditemui di sebagian akun sebuah band.
Apa sisi positif dan negatif dari social media ini? Apa dampak terbesar dari pertumbuhan pengguna social media bagi komunitas-komunitas musik di Indonesia?

Its been a while since it ‘printed’
‘Apa yang anda lakukan sekarang bila anda menjadi penyelenggara sebuah gigs? Apakah jawaban anda mengupload flyer dan men-tag nama sebanyak-banyaknya?’ sebuah pertanyaan singkat dari salah seorang teman yang membuat saya ingin mengangkat tema ini. Jujur saja, sekarang saya jarang memegang sebuah flyer gigs dalam bentuk cetak. Kebanyakan flyer cetak dibuat terbatas untuk sekedar disebar di titik-titik strategis seperti studio musik, cafe dan lainnya. Dengan menggunakan flyer foto yang kemudian diupload di platform social media, ‘pesan’ yang ingin disampaikan bisa tersampaikan dengan range jarak yang lebih luas dan range waktu yang lebih singkat. Dengan kata lain, lebih efektif dan efisien. Benarkah itu?
Promosi adalah hal yang paling tepat digunakan sebagai alasan seorang musisi membuat sebuah akun social media. Mulai dari akun yang berbayar hingga akun yang gratis dalam proses registrasi-nya. Dalam hitungan detik, sebuah foto bisa diupload, dalam hitungan menit satu lagu atau video bisa dinikmati semuanya. Rasa-rasanya tingkat kompetensi dalam hal promosi menjadi trending topic dalam setiap platform yang ada. Oleh karena itu, kreatifitas si empunya akun ini diuji dengan meng-custom dan me-manage tiap-tiap akunnya dengan baik. Mulai dari design, konten update sampai program-program yang dicanangkan demi merangkul semua elemen.
Ada satu masalah utama dari penggunaan internet bagi musisi, yaitu pembajakan karya melalui illegal download. Namun ada sebagian musisi yang memang memberikan karyanya secara cuma-cuma tergantung kebijakan masing-masing musisi tersebut. Terlepas dari hal tersebut masih banyak masalah lainnya terutama dalam hal berkomunikasi. Bahasa tulisan/teks jelas berbeda dengan bahasa lisan. Dengan membaca sebuah teks, akan menimbukan konteks/reaksi yang berbeda-beda dari setiap pembacanya. Hal ini menjadi salah satu minus dari konten teks di social media. Namun banyak musisi yang menggunakan smart campaign dalam mempromosikan band/musiknya. Banyak pula webzine, portal, newsletter online yang membantu perkembangan para musisi di Indonesia. Dengan kemudahan tersebut, makin banyak pula akun-akun band yang dibuat dalam berbagai platform. Intinya adalah supaya musisi tersebut bisa ‘lebih dekat’ dengan sosial. Sebagai contoh di Twitter, untuk musisi dengan followers puluhan hingga ratusan ribu akan sangat mudah mempromosikan dirinya sendiri, bahkan terkadang mereka di-hire sebagai influencer untuk produk-produk tertentu.
Intinya, Social media telah menjadi salah satu hal primer bagi kebanyakan orang, yang menjadi pendukung mengapa musisi harus memiliki paling tidak satu akun social media. Namun perlu dipelajari how to-nya dalam berkomunikasi dan mempromosikan karya kita.

Berikut adalah tips bagaimana mempromosikan band/musik kalian di Social Media :
1. Pastikan sudah disiapkan user name yang mudah diingat dan dicari (untuk meningkatkan SEO : Search Engine Optimization). Kadang kita menghadapi masalah persamaan nama dengan band/musisi lain, bisa ditambahkan wilayah atau genre untuk mendapat nama yang lebih personal.
2. Isi biography dengan sejelas-jelasnya dan berikan semua contact, link yang bisa diakses untuk menjalin komunikasi. Dari sini anda bisa ‘memperkenalkan diri’, menceritakan sejarah singkat (semacam mini portfolio).
3. Too much words doesn’t makes an attraction, give more images. Bermainlah dengan foto atau gambar yang ada, kecuali untuk microsite seperti Twitter. Secara psikologis, orang akan lebih tertarik dengan info foto daripada info teks dengan banyak huruf didalamnya. Coba googling infographic yang menarik, bisa menjadi influence untuk media kit. One picture can says thousand words.
4. Dont do SPAM! Satu hal yang kadang tidak diperhatikan saat mempromosikan sesuatu adalah hasrat yang terlalu menggebu-gebu untuk membagi banyak hal. Seperti contoh di Twitter, terkadang saat terlalu banyak twit yang dibuat, hasilnya adalah followers yang berkurang. Memang tidak ada peraturan tertulis dalam dunia maya namun ada baiknya diperhatikan kuota info demi kenyamanan bersama.
5. Traffic terbanyak orang mengakses social media biasanya saat santai, yaitu jam 07.00-09.00 (breakfast, perjalanan ke kantor), 12.00-14.00 (makan siang), 17.00-19.00 (perjalanan kerumah, macet) dan 21.00-23.00 (santai dirumah, sebelum tidur).
6. Jangan segan-segan mempromosikan band/figure lain, dari sini akan terjalin komunikasi viral yang akan mengangkat klout kita. Support each others.

fin – (heyckel)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s