The Genius RAY CHARLES, sebuah biography

Image

Ray Charles (23 September 1930-10 Juni 2004), terlahir dengan nama Ray Charles Robinson adalah salah satu pelopor genre musik Soul yang menggabungkan Rhythm’n’Blues, Gospel dan Blues. Gaya permainannya sangat dipengaruhi oleh nama-nama besar di dunia Jazz saat itu, seperti Art Tatum, Nat King Cole, Louis Jordan, Charles Brown, Louis Armstrong. Beliau sangat berperan besar bagi musik dunia dan terutama perjuangan para kulit hitam di masanya. Banyak penghargaan yang diberikan kepadanya, beberapa diantaranya adalah Rolling Stone Magazine memberikannya peringkat ke-10 untuk ‘100 Greatest Artists of All Time’ (2004) dan peringkat ke-2 untuk ‘100 Greatest Singers of All Time’ (2008). Yang perlu diperhatikan, beliau adalah musisi yang mempunyai kekurangan, yaitu kebutaan yang dialaminya sejak kecil. Tapi hal tersebut tidak menghentikannya menghasilkan karya-karya yang masih diingat sampai sekarang.

Ray lahir dari pasangan Bailey Robinson dan Aretha Robinson, sebuah keluarga petani yang tinggal di kawasan kulit hitam yang miskin Greenville, Florida. Sang ibu, Aretha adalah seorang yang sangat religius dan selalu mengajarkan agama Kristen kepada anak-anaknya (Ray memiliki seorang adik yang bernama George). Namun sayangnya, pada saat berusia 4 tahun, Ray kehilangan adiknya, George, setelah lalai ketika menjaganya sehingga George terjatuh ke dalam bak yang berisi air panas dan hal tersebut membuat Ray merasa bersalah hampir sepanjang hidupnya.

Rasa ketertarikan Ray pada musik sudah ditunjukkan sejak kecil. Hal ini terlihat saat dia begitu antusias memainkan piano setelah diajarkan permainan boogie woogie sederhana oleh Wiley Pit di kafenya yang bernama Red Wing. Sayangnya, di usia 5 tahun Ray mulai mengeluh ada yang salah dengan penglihatannya, hingga akhirnya Ray benar-benar mengalami kebutaan pada usia 7 tahun. Ray didiagnosis terkena Glaucoma. Selama masa-masa menuju kebutaan, Aretha kerap menyemangatinya agar Ray tidak berkecil hati dengan kekurangan yang dimilikinya. Banyak nasehat dari Aretha yang akhirnya menjadi pegangan hidupnya terutama dalam kehidupan bermusiknya. Bailey meninggal pada saat Ray berusia 10 tahun dan 5 tahun kemudian Aretha meninggalkan Ray selama-lamanya. Setelah itu Ray hidup bersama anggota keluarga lainnya yang mau menampungnya.

Ray mengenyam bangku pendidikan di Florida School for the Deaf and the Blind (St. Augustine) di tahun 1937-1945. Di tempat ini pula, Ray mengembangkan ilmu bermusiknya. Tapi Ray tidak terlalu tertarik dengan kurikulum yang diajarkan yaitu musik Klasik. Yang Ray inginkan adalah mempelajari Jazz dan Blues, genre yang kerap dia dengarkan di radio-radio lokal. Ray menjadi musisi reguler di sekolahnya dan mengadakan konser tiap hari Jumat membawakan lagu-lagu hits saat itu. Untuk pertama kalinya, Ray membuat sebuah band yang bernama ‘RC Robinson and the Shop Boys’ dan membawakan hasil aransemennya sendiri, Jingle Bell Boogie.

Pada tahun 1946, Ray yang hidup bersama teman Ibunya di Jacksonville, menjadi musisi reguler di Ritz Theater selama hampir 4 tahun dan setiap kali performnya, Ray mendapat upah 4$. Tak lama kemudian Ray pindah ke Tampa dan bermain bersama The Florida Playboys, disini dia memulai kebiasaannya memakai kaca mata hitam. Ray banyak membantu band-band yang ada disana dan hanya sebagai additional player. Ray yang ingin mempunyai band-nya sendiri akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota yang lebih besar, yaitu Seattle pada tahun 1947. Di Seattle, Ray bertemu dengan Quincy Jones (nantinya Quincy akan menjadi salah satu pemain trumpet yang diperhitungkan di dunia Jazz). Di tahun 1949, Ray melakukan recording bersama the Maxin Trio (bersama G.D. McKee dan Milton Garrett) dengan hits pertamanya, Confession Blues (dibawah Down Beat label). Tidak lama kemudian, Ray bergabung dengan Swing Time Records dan merekam karyanya menggunakan nama Ray Charles di tahun 1952.  Ray merekam 2 single yang berjudul ‘Baby, Let Me Hold Your Hand’ dan ‘Kissa Me Baby’.

Di tahun 1953, Ray berkenalan dengan Ahmet Ertegün dan bergabung dengan Atlantic Records. D ilabel ini, Ray menemukan style musiknya sendiri, yaitu perpaduan antara Gospel, Blues dan Jazz. Banyak hits yang dia rekam di label ini, diantaranya adalah Sinner’s Prayer, Mess Around dan Don’t You Know. Tapi yang paling diingat adalah I Got A Woman dimana di lagu ini Ray benar-benar menemukan gaya khas-nya yang nantinya dipakai di setiap hitsnya. Awalnya banyak yang mengecam Ray karena menggabungkan Gospel yang notabene musik religi kaum Kristiani dengan Jazz, Blues dan Rock’n’Roll yang dianggap musik penyembah setan saat itu. Tapi perpaduan ini yang nantinya akan menjadi cikal bakal musik Soul.

Lagi-lagi Ray mendapat kecaman dari orang-orang setelah merekam What’d I Say yang justru menjadi hits tertinggi selama karirnya saat itu. What’d I Say mempunyai lirik yang bertema seksual dan dianggap menjadi pengaruh buruk untuk anak muda saat itu. Hampir di setiap pesta, lagu What’d I Say selalu mengudara dan seolah menjadi party-anthem saat itu. Durasi yang terlalu panjang membuat What’d I Say  harus dirilis dalam 2 track setelah sebelumnya Ray melewati perdebatan yang panjang dengan sang Produser. Ray memang dikenal sangat idealis terhadap karya-karyanya, terutama pada sistem produksinya.

Benar saja, Ray kemudian pindah label ABC-Paramount Records, setelah memutuskan tidak memperpanjang kontraknya dengan Atlantic pada tahun 1959. Di bawah label ini, Ray memperoleh Grammy Awards pertamanya setelah meng-compose single ‘Georgia On My Mind’ (1960) (diciptakan oleh komposer Stuart Gorrell and Hoagy Carmichael). Ada kisah yang menarik dari single ini setelah diciptakan. Pada tanggal 15 Maret 1961, saat Ray dijadwalkan perform di Bell Auditorium (Augusta, Georgia), Ray mengetahui bahwa di venue tersebut terjadi pemisahan antara audiens berkulit putih dan hitam hingga akhirnya memutuskan untuk membatalkan konser tersebut. Pihak promotor menuntut Ray sebesar 757$ dan dilarang tampil di Georgia hingga tahun 1979. Setelah mendapat anugerah Rock’n’Roll Hall Of Fame, lagu Georgia On My Mind menjadi lagu kebangsaaan negara bagian Georgia dan pelarangan perform dicabut.

Selama perjalanan karirnya, Ray memiliki dua kebiasaan buruk yaitu menggunakan drugs (Ray sudah menggunakan drugs sejak berusia 16 tahun & menjadi pemakai yang aktif) dan bermain wanita. Namun akhirnya kedua kebiasaan tersebut ditinggalkan terutama setelah Ray ditangkap oleh Polisi pada tanggal 14 November 1961 di sebuah kamar hotel Indiana. Ketika itu Ray sedang bersiap-siap untuk melakukan konser. Polisi menemukan sejumlah barang bukti seperti Heroin, Marijuana dan lainnya. Hingga akhirnya Ray memutuskan untuk berhenti menggunakan drugs di tahun 1966 (setelah menjalani rehabilitasi di St. Francis Hospital Lynwood, California selama 5 tahun) dan merilis album yang bertema kebebasan Ray dari ketergantungan drugs, Crying Time (dengan 2 lagu yang berlirik tentang pengalamannya selama memakai drugs, ‘I Don’t Need No Doctor’ dan ‘Let’s Go Get Stoned’).

Ray meninggal pada tanggal 10 Juni 2004 dan didiagnosis menderita sakit Liver/hepatitis  di rumahnya yang terletak di Beverly Hills, California. Jasadnya kemudian dimakamkan di Inglewood Park Cemetery. Banyak tribute album yang dikeluarkan atas apa yang sudah diciptakan oleh Ray. Yang paling fenomenal adalah sebuah filmography  yang berjudul Ray (2004) dan Ray diperankan dengan sangat baik oleh Jamie Foxx yang kemudian memperoleh ’Best Actor’ di Academy Awards 2005 atas aktingnya tersebut.

Your soul will always on our mind Ray. (Heyckel / dari berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: