How to Build Your Own Diorama (Indonesian)

Hello semua,
kali ini saya akan share step-step dalam membangun sebuah diorama untuk background Action Figure/Model Kits. Banyak tutorial yang bagus di Youtube, Blog-blog Kolektor, Thread Social Media dan lainnya yang bisa digunakan sebagai influence, tapi akhirnya originalitas konsep yang diutamakan. Gunakan imajinasi pribadi seluas-luasnya dan kita akan sangat puas dengan hasilnya.
Yang akan saya share adalah diorama dengan tema Lembah & Laut untuk model kits Gundam. Masih seadanya, semoga membantu 🙂

1. Cari benda yang bisa digunakan sebagai alas/dasar diorama, saya menggunakan bekas kipas laptop yang rusak. Makin solid makin baik (bisa juga untuk ditempelkan tag name setelah diorama selesai). Perhatikan ukuran figure yang akan dipakai, agar nantinya figure tersebut tidak kebesaran maupun tidak kekecilan.

2. Buat struktur awal (misal ada berapa layer tebing, mana dataran tinggi, mana dataran rendah danlainnya). Saya menggunakan karton tebal bekas tempat elektronik. Lem yang kuat sehingga menghasilkan struktur yang kuat juga.

3. Selanjutnya adalah mendetailkan struktur yang sudah dibuat sebelumnya. Gunakan kertas bekas (koran atau majalah), bulatkan atau dibuat sedemikian rupa untuk membentuk detail yang diinginkan. Penempatannya pun harus sesuai dengan konsep awal. Gunakan selotip/double tip untuk menempelkan kertas-kertas tersebut agar solid.

4. Setelah semua struktur terpasang, saatnya tahap ‘plastering’. Saya menggunakan Plaster Of Paris cloth (bisa dibeli di apotik atau RS), sangat mudah, tinggal dicelupkan ke air dan ditempelkan ke strukturnya. Makin banyak layer, makin kuat hasilnya. Tunggu sampai benar-benar kering demi detail yang baik.

5. Tahap selanjutnya adalah pengecatan. Untuk mempermudah, ada baiknya menggambar konsep pada awal sebelum membangun diorama agar nantinya mempermudah proses pewarnaan. Ada banyak teknit pewarnaan yang bisa dipelajari mulai dari shadow-ing, sand painting dan lainnya (bisa dicari by googling cara-cara pewarnaan). Saya menggunakan cat asturo, lebih baik lagi menggunakan cat akrilik.
Untuk ‘pemanis’ bisa ditambahkan efek rumput, pohon-pohonan dan properti lainnya. Untuk efek rumput, saya menggunakan spon bunga-bungaan yang diserut lalu direndam di cat asturo hijau muda.

6. Setelah semuanya telah dilakukan, pastikan lagi untuk mendetailkan diorama tersebut, terkadang sebuah diorama dikatakan baik saat tidak berlebihan maupun tidak kurang. Pastikan hasilnya sama atau mendekati apa yang anda inginkan. Well, selamat mencoba, semoga berguna :). Regards

Gundam AGE 2 Normal + diorama

Gundam AGE 2 Normal + diorama

My first handmade diorama ever. Get excited with this stuff 🙂

SEPULTURA : Most Successful Brazilian Heavy Metal’s Ever

SEPULTURA adalah salah satu nama yang dianggap paling berpengaruh dalam perkembangan musik Metal dunia, terutama di tahun 90-an. Dibentuk di Belo Horizonte (ibukota Minas Gerais), Brazil pada tahun 1984 oleh 2 bersaudara, Max & Igor Cavalera. Keduanya sama-sama menggemari band-band yang tengah naik daun kala itu seperti Black Sabbath, Led Zeppelin, AC/DC, Deep Purple, Iron Maiden. Tapi mereka berdua benar-benar ingin mendirikan sebuah band-nya sendiri setelah mendengarkan album dari Black Sabbath yang bertitel Black Sabbath Vol. 4. Kemudian mereka mulai mendengarkan band-band dengan music yang ‘lebih keras’ seperti  Kreator, Sodom, Megadeth, Exodus dan Exciter. Nama ‘Sepultura’ sendiri adalah ide dari Max Cavalera yang menyadur lagu Motorhead, Dancing On Your Grave. Kata Sepultura berasal dari bahasa Portugis yang berarti Makam/Kuburan.

Formasi awal Sepultura adalah Max Cavalera (guitar), Igor Cavalera (drum), Wagner Lamounier (vocal) dan Paulo Jr (bass). Namun kehadiran Lamounier tidak lama, setahun kemudian tepatnya pada bulan Maret 1985, Lamounier mengundurkan diri karena merasa tidak cocok dengan member Sepultura yang lalu. Dia membentuk Sarcofago (band ini ber-genre Black Metal) tidak lama kemudian. Max akhirnya memutuskan untuk mengambil alih divisi vocal dan Sepultura menambah ‘amunisi’ dengan bergabungnya Jairo Guedes sebagai lead guitarist. Setelah menggempur gigs ke gigs, pada pertengahan tahun 1985 Sepultura merilis EP-nya yang bertitel Bestial Devastation (Cogumelo Records). Ini merupakan split album dimana Sepultura ‘ditemani’ oleh band asal Brazil, Overdose. Setahun kemudian, pada bulan Agustus 1986, akhirnya Sepultura merilis full album pertamanya yang bertitel Morbid Visions. Di album ini, satu nomor legendaris tercipta yaitu, Troops Of Doom. Album perdana ini berhasil memikat penikmat Metal terutama di Brazil. Nuansa yang ada di album ini sangat kental dengan Death Metal. Tidak lama kemudian Sepultura memutuskan menetap di kota yang lebih besar yaitu Sao Paulo.

Image 

Lagi-lagi Sepultura harus ditinggal personilnya, kali ini Jairo Guedes yang mengundurkan diri pada awal tahun 1987. Namun pengganti Guedes didapat tidak lama kemudian. Andreas Kisser, gitaris asal Sao Paulo ini memperkuat Sepultura dan langsung merilis album kedua yang bertitel Schizophrenia. Album ini semakin memperkental riff Thrash Metal, berbeda dengan album sebelumnya namun masih ada balutan Death Metal. Album ini diedarkan sampai ke Amerika Serikat dan Sepultura mendapatkan perhatian dari Roadrunner Record, sebuah label besar yang ‘mengkhususkan’ genre Metal pada rilisannya. Akhirnya mereka mengadakan kerja sama dan merilis album Schizophrenia dengan skala internasional meski kedua belah pihak belum pernah bertemu langsung.

Image 

Tahun 1989, Sepultura merilis album ketiganya yang bertitel Beneath The Remains di Rio De Janeiro. Selama proses rekamannya, Sepultura menggunakan translator untuk berkomunikasi dengan sang produser yang berasal dari Amerika Serikat, Scott Burns. Album ketiga ini dianggap album monumental yang setara dengan album klasik Slayer, Reign In Blood, terutama dalam perkembangan genre Thrash/Metal saat itu. Bahkan Terrorizer Magazine menobatkan album ini sebagai salah satu dari 20 album Thrash Metal terbaik. Akhirnya, Sepultura melakukan gigs pertamanya di Amerika Serikat sebagai opening act dari King Diamond, di The Ritz, New York pada tanggal 31 Oktober 1989. Tidak lama kemudian, Sepultura juga membuat video kilp pertama mereka yaitu Inner Self.

Image

Gigs besar pertama Sepultura adalah Rock In Rio II pada bulan Januari 1991. Mereka bermain didepan kurang lebih 100.000 audiens yang semakin memperkuat nama Sepultura kala itu. Hingga akhirnya, Sepultura melakukan perpindahan dari Brazil ke Phoenix, Arizona dan merombak manajemen mereka dengan yang baru. Setelah itu mereka merekam album keempat, salah satu album Thrash Metal paling fenomenal, yang bertitel Arise di  Morrisound Studios (Tampa, Florida). Single dari album ini yang bertitel Dead Embryonic Cells sukses di pasaran dan makin banyak memikat penggemar mereka. Album ini juga pertama kali masuk ke dalam Billboard 200 chart dan masuk pada urutan 119.

Chaos A.D.adalah titel album kelima mereka yang dirilis pada tahun 1993. Di album ini, Sepultura mulai memadukan style Industrial dan Hardcore Punk, dimana mereka menurunkan tempo lebih lambat daripada album-album sebelumnya dan banyak memasukkan unsure groovy. AllMusic media menobatkan album ini sebagai salah satu album Heavy Metal  terbaik sepanjang masa. Di tahun 1994, Max dan Igor membuat sebuah project yang bernama Nailbomb bersama Alex Newport (Fudge Tunnel). Band ini lebih ‘mengentalkan’ unsur Industrial yang tengah digandrungi Max dan Igor kala itu (nantinya akan sangat berpengaruh ke musik Soulfly dan Cavalera Conspiracy).

Setelah merilis album keenam mereka yang bertitel Roots pada tahun 1996, Max Cavalera memutuskan untuk meninggalkan Sepultura. Saat itu, Dana, putra tirinya dari sang istri Gloria Bujnowski tewas terbunuh. Kisser juga memecat Gloria yang juga menjadi manajer Sepultura. Hal ini menyulut kekecewaan Max terhadap Kisser yang baru diutarakan Max pada sebuah interview dengan Faceculture pada tahun 2010. Setelah hengkang dari Sepultura, Max membuat Soulfly pada tahun 1997. Tak lama kemudian, Derrick Green masuk menggantikan Max Cavalera sebagai frontman dan langsung merekam album ketujuh mereka yang bertitel Against yang dirilis tahun 1998. Album ini cukup menuai kesuksesan dan lebih sukses dari album sebelumnya. Bahkan album ini lebih tinggi penjualannya dibandingkan dengan album debut band baru Max Cavalera, Soulfly.

Image

Sepultura menemui masalah setelah merilis album kedelapan mereka, Nation di tahun 2001. Album ini memiliki nilai penjualan yang sangat rendah dan album ini menjadi album terakhir mereka yang dirilis oleh Roadrunner records. Namun pada tahun 2002, Roadrunner merilis album live saat Max Cavalera masih menjadi frontman yang bertitel Under a Pale Grey Sky. Pada tahun yang sama, Sepultura merilis Revolusongs, sebuah EP yang berisi lagu-lagu cover version dan tak lama kemudian album kesembilan mereka, Roorback dirilis pada tahun 2003.

Perubahan formasi terjadi lagi pada Sepultura. Kali ini Igor Cavalera yang mengundurkan diri dari Sepultura setelah merilis album Dante XXI di tahun 2006. Kali ini sudah tidak ada dua pendiri Sepultura, yaitu Cavalera bersaudara. Namun Andreas Kisser masih berniat melanjutkan band ini dan segera mencari pengganti Igor, yaitu Jean Dolabella. Igor sendiri lalu mendirikan Cavalera Conspiracy bersama saudaranya Max.

Pada tanggal 26 Januari 2009, Sepultura merilis album kesepuluh mereka yang bertitel A-Lex. Ini adalah album pertama yang tidak melibatkan duo Cavalera sama sekali, hanya menyisakan Paulo Jr. dari formasi awal Sepultura. Album ini menuai banyak respon positif, karena biasanya band-band lain kebanyakan akan mengalami penunuran musikalitas saat mengalami pergantian personil terutama personil pendiri band tersebut, tapi hal ini tidak berlaku untuk Sepultura. Musikalitas mereka di album ini cukup ‘stabil’.

Nuclear Blast Records menjadi ‘rumah baru’ bagi Sepultura. Penandatanganan kontrak kerja sama dilakukan pada tanggal 6 Juni 2010. Segera setelah itu album kesebelas mereka yang bertitel Kairos dirilis pada bulan Juni 2011. Album ini berisi materi-materi Sepultura yang sudah menetapkan karakternya yang ‘bukan Cavalera’ lagi. Tidak lama setelah melakukan tur promo album Kairos, JeanDolabella mengundurkan diri dan digantikan oleh seorang drummer muda berbakat, yaitu Eloy Casagrande (Eloy sebelumnya bermain sebagai drummer eks vokalis Angra, Andre Matos dan saat itu dia berusia 20 tahun) pada bulan November 2011.

Image

Sampai sekarang Sepultura masih melakukan show-show  di seluruh penjuru dunia. Sayangnya, Kisser berkali-kali menegaskan kepada media jika tidak akan terjadi reuni dengan formasi klasik, terutama dengan Max Cavalera. MTV menobatkan Sepultura sebagai band Heavy Metal asal Brazil paling sukses sepanjang sejarah dan salah satu band paling penting di tahun 90-an. Seperti apakah gempuran terbaru Sepultura di album baru mereka mendatang? Well, hope its still kickass Thrash bloody Thrash! (heyckel / dari berbagai sumber/foto : istimewa)

Discography :

Morbid Visions (1986)

Schizophrenia (1987)

Beneath the Remains (1989)

Arise (1991)

Chaos A.D. (1993)

Roots (1996)

Against (1998)

Nation (2001)

Roorback (2003)

Dante XXI (2006)

A-Lex (2009)

Kairos (2011)

After 20 years, he’s back! Soulfly ‘Enslaved World Tour 2012’ concert report

Setelah 20 tahun lamanya, akhirnya Max Cavalera ‘menginjakkan’ lagi kakinya di Indonesia. Pada tahun 1992 silam Sepultura mengadakan konser legendaris mereka di Jakarta dan Surabaya, akhirnya pada tahun 2012, tepatnya hari Minggu, 21 Oktober 2012, Max kembali lagi ke Indonesia bersama Soulfly. Dipromotori oleh Revision Entertainment, Indonesia masuk dalam rangkaian Enslaved World Tour 2012 setelah sebelumnya Soulfly mengadakan konsernya di Kuala Lumpur. Selama rangkaian turnya, Soulfly didampingi oleh band Metalcore asal Amerika, Unearth. Venue yang awalnya bertempat di Lapangan D Senayan akhirnya dipindah ke di Lapangan Parkir Selatan Senayan.

Kedatangan Soulfly tentu saja disambut dengan antusias oleh sebagian besar Metalheads Indonesia terlebih dengan adanya sosok Max Cavalera sebagai frontman. Sejak hengkang dari Sepultura pada tahun 1996, Max mendirikan Soulfly di tahun 1997 dan masih eksis sampai sekarang. Root Thrash Metal masih kental didalam dirinya, hanya saja di Soulfly, Max banyak bereksperimen dengan sampling-sampling, liriknya lebih banyak mengangkat tentang religi, perang dan kemarahan. Sampai saat ini, Soulfly telah menghasilkan 8 album yaitu, Soulfly (1998), Primitive (2000), 3 (2002), Prophecy (2004), Dark Ages (2005), Conquer (2008), Omen (2010), Enslaved (2012).

Sejak sore hari Metalheads sudah memenuhi area venue, gate yang dijadwalkan dibuka pukul 19:00 mengalami keterlambatan dan baru dibuka sekitar pukul 20:30 WIB. Tapi tentu saja hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun animo Metalheads yang ingin melihat secara langsung penampilan dari Max Cavalera dkk. Konser dibuka dengan penampilan salah satu band old school Thrash Metal asal Indonesia, Suckerhead. Band yang dipimpin oleh Krisna J. Sadrach (Bass & Vocal) memanaskan venue dengan nomer-nomer ngebut ala Thrash Metal dan penampilan mereka ditutup dengan cover song legendaris dari Duo Kribo, Neraka Jahanam. Setelah penampilan Suckerhead, selanjutnya giliran Unearth yang membakar venue dengan lagu-lagu bergenre Metalcore-nya. Band yang digawangi oleh Buz McGrath (guitar), Trevor Phipps (lead vocals), Ken Susi (guitar, backing vocals), John “Slo” Maggard (bass, keyboards, backing vocals) dan Nick Pierce (drums, percussion) ini tampil membawakan banyak lagu-lagu hits-nya seperti Black Hearts Now Reign, Zombie Autopilot, Giles. Unearth adalah salah satu band yang mempunyai part-part groovy kental ala Metalcore, mempunyai riff guitar yang liar dan melodius, agak berbeda dengan band Metalcore kebanyakan, sehingga Unearth menjadi salah satu band yang layak diperhitungkan di kancah Metal dunia. Sayangnya, disaat penampilannya Unearth mengalami banyak masalah pada sound system. Awalnya tampak Ken Susi kesal karena mic-nya tidak berbunyi hingga dia menendang stand mic-nya dan ditengah-tengah penampilan mereka sound system kerap mengalami masalah yang lumayan ‘mengganggu’. Tapi hal tersebut tidak mengurangi keriuhan di moshpit dan Unearth tampil sangat enerjik malam itu. Ini adalah kali pertama mereka tampil di Indonesia sejak didirikan pada tahun 1998. Hingga saat ini Unearth telah menghasilkan beberapa album yaitu, Above the Fall of Man (EP) (1999), The Stings of Conscience (2001), The Oncoming Storm (2004), Endless (EP) (2002), III: In the Eyes of Fire (2006), The March (2008) dan Darkness in the Light (2011).

Image

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu tiba. Setelah penampilan Unearth, tampak para crew Soulfly melakukan persiapan di stage. Kabarnya, Soulfly datang dengan tidak membawa soundman dan tidak melakukan sound-check sehingga persiapan diatas stage lumayan memakan waktu, namun dengan sabar para Metalheads menunggu penampilan mereka sembari membuat yel ‘Soulfly..! Soulfly..! Soulfly..!’. Sampai akhirnya berturut-turut muncul di stage, Max Cavalera (vocal & guitar), Marc Rizzo (guitar), Tony Campos (bass) dan David Kinkade (drum) yang disambut dengan riuh oleh para Metalheads yang sudah tidak sabar melihat langsung penampilan mereka. Tanpa basa basi Max Cavalera langsung menggeber World Scum setelah sebelumnya dibuka oleh nomer instrumental Resistance. Circle pit, diving pun tak bisa dihindari. Semuanya larut dalam gempuran musik Soulfly. Yang menarik dari setlist Soulfly, mereka ‘lumayan banyak’ meng­-cover nomer-nomer old school dari Sepultura yaitu Refuse/Resist, Arise / Dead Embryonic Cells (medley), Troops Of Doom, Territory dan Roots Bloody Roots. Tidak hanya itu, ada 2 parts yang cukup mengejutkan audiens yaitu Iron Man (Black Sabbath) sebagai outro lagu Intervention dan Walk (Pantera, sebelumnya Max mengucapkan ‘a tribute to Dimebag Darrell..) sebagai intro lagu Plata O Plomo. Tidak ketinggalan pula hits dari mereka seperti Seek’N’Strike, Back To Primitive yang makin memanaskan area moshpit. Overall, sound yang dihasilkan tidak bermasalah dan sesuai dengan karakter musik Soulfly. Mendekati akhir penampilan mereka, Max membawa seragam timnas sepakbola Indonesia dan melambai-lambaikannya. Sudah menjadi trademark Max sejak masih di Sepultura memakai merchandise timnas sepakbola Brazil bahkan merchandise Sepultura dan Soulfly banyak yang berbentuk jersey timnas Brazil yang sangat diburu oleh para kolektor. Hal ini disebabkan karena Max berasal dari Brazil, negara yang sangat mendewakan sepakbola dan banyak mencetak pemain-pemain kelas dunia. Hingga akhirnya ‘sesi pura-pura’ menyudahi konser dan audiens meneriakkan encore ’we want more..we want more’,  Soulfly muncul kembali di stage dan mengakhiri konser ini dengan Jumpdaf*ckup/Eye for an Eye dan mereka benar-benar menyudahi penampilannya. Semua Metalheads yang sangat puas dengan penampilan Soulfly, terutama mereka yang pernah menyaksikan konser Sepultura pada tahun 1992 dan seakan mengobati kerinduan mereka untuk melihat langsung penampilan Max Cavalera. (heyckel, foto : Joko Widodo – https://www.facebook.com/media/set/?set=a.4631262660883.266829.1272375458&type=3)

 Image

Image

Image

The Genius RAY CHARLES, sebuah biography

Image

Ray Charles (23 September 1930-10 Juni 2004), terlahir dengan nama Ray Charles Robinson adalah salah satu pelopor genre musik Soul yang menggabungkan Rhythm’n’Blues, Gospel dan Blues. Gaya permainannya sangat dipengaruhi oleh nama-nama besar di dunia Jazz saat itu, seperti Art Tatum, Nat King Cole, Louis Jordan, Charles Brown, Louis Armstrong. Beliau sangat berperan besar bagi musik dunia dan terutama perjuangan para kulit hitam di masanya. Banyak penghargaan yang diberikan kepadanya, beberapa diantaranya adalah Rolling Stone Magazine memberikannya peringkat ke-10 untuk ‘100 Greatest Artists of All Time’ (2004) dan peringkat ke-2 untuk ‘100 Greatest Singers of All Time’ (2008). Yang perlu diperhatikan, beliau adalah musisi yang mempunyai kekurangan, yaitu kebutaan yang dialaminya sejak kecil. Tapi hal tersebut tidak menghentikannya menghasilkan karya-karya yang masih diingat sampai sekarang.

Ray lahir dari pasangan Bailey Robinson dan Aretha Robinson, sebuah keluarga petani yang tinggal di kawasan kulit hitam yang miskin Greenville, Florida. Sang ibu, Aretha adalah seorang yang sangat religius dan selalu mengajarkan agama Kristen kepada anak-anaknya (Ray memiliki seorang adik yang bernama George). Namun sayangnya, pada saat berusia 4 tahun, Ray kehilangan adiknya, George, setelah lalai ketika menjaganya sehingga George terjatuh ke dalam bak yang berisi air panas dan hal tersebut membuat Ray merasa bersalah hampir sepanjang hidupnya.

Rasa ketertarikan Ray pada musik sudah ditunjukkan sejak kecil. Hal ini terlihat saat dia begitu antusias memainkan piano setelah diajarkan permainan boogie woogie sederhana oleh Wiley Pit di kafenya yang bernama Red Wing. Sayangnya, di usia 5 tahun Ray mulai mengeluh ada yang salah dengan penglihatannya, hingga akhirnya Ray benar-benar mengalami kebutaan pada usia 7 tahun. Ray didiagnosis terkena Glaucoma. Selama masa-masa menuju kebutaan, Aretha kerap menyemangatinya agar Ray tidak berkecil hati dengan kekurangan yang dimilikinya. Banyak nasehat dari Aretha yang akhirnya menjadi pegangan hidupnya terutama dalam kehidupan bermusiknya. Bailey meninggal pada saat Ray berusia 10 tahun dan 5 tahun kemudian Aretha meninggalkan Ray selama-lamanya. Setelah itu Ray hidup bersama anggota keluarga lainnya yang mau menampungnya.

Ray mengenyam bangku pendidikan di Florida School for the Deaf and the Blind (St. Augustine) di tahun 1937-1945. Di tempat ini pula, Ray mengembangkan ilmu bermusiknya. Tapi Ray tidak terlalu tertarik dengan kurikulum yang diajarkan yaitu musik Klasik. Yang Ray inginkan adalah mempelajari Jazz dan Blues, genre yang kerap dia dengarkan di radio-radio lokal. Ray menjadi musisi reguler di sekolahnya dan mengadakan konser tiap hari Jumat membawakan lagu-lagu hits saat itu. Untuk pertama kalinya, Ray membuat sebuah band yang bernama ‘RC Robinson and the Shop Boys’ dan membawakan hasil aransemennya sendiri, Jingle Bell Boogie.

Pada tahun 1946, Ray yang hidup bersama teman Ibunya di Jacksonville, menjadi musisi reguler di Ritz Theater selama hampir 4 tahun dan setiap kali performnya, Ray mendapat upah 4$. Tak lama kemudian Ray pindah ke Tampa dan bermain bersama The Florida Playboys, disini dia memulai kebiasaannya memakai kaca mata hitam. Ray banyak membantu band-band yang ada disana dan hanya sebagai additional player. Ray yang ingin mempunyai band-nya sendiri akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota yang lebih besar, yaitu Seattle pada tahun 1947. Di Seattle, Ray bertemu dengan Quincy Jones (nantinya Quincy akan menjadi salah satu pemain trumpet yang diperhitungkan di dunia Jazz). Di tahun 1949, Ray melakukan recording bersama the Maxin Trio (bersama G.D. McKee dan Milton Garrett) dengan hits pertamanya, Confession Blues (dibawah Down Beat label). Tidak lama kemudian, Ray bergabung dengan Swing Time Records dan merekam karyanya menggunakan nama Ray Charles di tahun 1952.  Ray merekam 2 single yang berjudul ‘Baby, Let Me Hold Your Hand’ dan ‘Kissa Me Baby’.

Di tahun 1953, Ray berkenalan dengan Ahmet Ertegün dan bergabung dengan Atlantic Records. D ilabel ini, Ray menemukan style musiknya sendiri, yaitu perpaduan antara Gospel, Blues dan Jazz. Banyak hits yang dia rekam di label ini, diantaranya adalah Sinner’s Prayer, Mess Around dan Don’t You Know. Tapi yang paling diingat adalah I Got A Woman dimana di lagu ini Ray benar-benar menemukan gaya khas-nya yang nantinya dipakai di setiap hitsnya. Awalnya banyak yang mengecam Ray karena menggabungkan Gospel yang notabene musik religi kaum Kristiani dengan Jazz, Blues dan Rock’n’Roll yang dianggap musik penyembah setan saat itu. Tapi perpaduan ini yang nantinya akan menjadi cikal bakal musik Soul.

Lagi-lagi Ray mendapat kecaman dari orang-orang setelah merekam What’d I Say yang justru menjadi hits tertinggi selama karirnya saat itu. What’d I Say mempunyai lirik yang bertema seksual dan dianggap menjadi pengaruh buruk untuk anak muda saat itu. Hampir di setiap pesta, lagu What’d I Say selalu mengudara dan seolah menjadi party-anthem saat itu. Durasi yang terlalu panjang membuat What’d I Say  harus dirilis dalam 2 track setelah sebelumnya Ray melewati perdebatan yang panjang dengan sang Produser. Ray memang dikenal sangat idealis terhadap karya-karyanya, terutama pada sistem produksinya.

Benar saja, Ray kemudian pindah label ABC-Paramount Records, setelah memutuskan tidak memperpanjang kontraknya dengan Atlantic pada tahun 1959. Di bawah label ini, Ray memperoleh Grammy Awards pertamanya setelah meng-compose single ‘Georgia On My Mind’ (1960) (diciptakan oleh komposer Stuart Gorrell and Hoagy Carmichael). Ada kisah yang menarik dari single ini setelah diciptakan. Pada tanggal 15 Maret 1961, saat Ray dijadwalkan perform di Bell Auditorium (Augusta, Georgia), Ray mengetahui bahwa di venue tersebut terjadi pemisahan antara audiens berkulit putih dan hitam hingga akhirnya memutuskan untuk membatalkan konser tersebut. Pihak promotor menuntut Ray sebesar 757$ dan dilarang tampil di Georgia hingga tahun 1979. Setelah mendapat anugerah Rock’n’Roll Hall Of Fame, lagu Georgia On My Mind menjadi lagu kebangsaaan negara bagian Georgia dan pelarangan perform dicabut.

Selama perjalanan karirnya, Ray memiliki dua kebiasaan buruk yaitu menggunakan drugs (Ray sudah menggunakan drugs sejak berusia 16 tahun & menjadi pemakai yang aktif) dan bermain wanita. Namun akhirnya kedua kebiasaan tersebut ditinggalkan terutama setelah Ray ditangkap oleh Polisi pada tanggal 14 November 1961 di sebuah kamar hotel Indiana. Ketika itu Ray sedang bersiap-siap untuk melakukan konser. Polisi menemukan sejumlah barang bukti seperti Heroin, Marijuana dan lainnya. Hingga akhirnya Ray memutuskan untuk berhenti menggunakan drugs di tahun 1966 (setelah menjalani rehabilitasi di St. Francis Hospital Lynwood, California selama 5 tahun) dan merilis album yang bertema kebebasan Ray dari ketergantungan drugs, Crying Time (dengan 2 lagu yang berlirik tentang pengalamannya selama memakai drugs, ‘I Don’t Need No Doctor’ dan ‘Let’s Go Get Stoned’).

Ray meninggal pada tanggal 10 Juni 2004 dan didiagnosis menderita sakit Liver/hepatitis  di rumahnya yang terletak di Beverly Hills, California. Jasadnya kemudian dimakamkan di Inglewood Park Cemetery. Banyak tribute album yang dikeluarkan atas apa yang sudah diciptakan oleh Ray. Yang paling fenomenal adalah sebuah filmography  yang berjudul Ray (2004) dan Ray diperankan dengan sangat baik oleh Jamie Foxx yang kemudian memperoleh ’Best Actor’ di Academy Awards 2005 atas aktingnya tersebut.

Your soul will always on our mind Ray. (Heyckel / dari berbagai sumber)

Social Media oh Social Media..

Intro,
‘Buku adalah jendela dunia’, itu adalah ungkapan yang kerap anda dengar, namun dewasa ini agaknya ungkapan tersebut ‘bergeser’ menjadi ‘Internet adalah jendela dunia’. Yup, internet telah menjadi hal yang bisa ditemui kapanpun, dimanapun sekarang. Banyak hal yang bisa diakses melalui internet, mulai dari berita, foto, chat, video, audio dan lainnya. Internet tidak lagi menjadi hal yang mewah layaknya beberapa tahun silam. Mulai dari memasang fasilitas internet pribadi hingga mendapat akses internet gratis memakai wi-fi yang biasanya bisa didapatkan di tempat-tempat umum. Dari sekian banyak hal yang bisa diakses melalui internet, yang paling populer adalah Social Media.

Apa itu social media?
Pada dasarnya berkomunikasi dan berinteraksi adalah hal yang paling disukai dan dibutuhkan oleh manusia. Manusia adalah mahkluk sosial yang tentu saja membutuhkan interaksi dalam kesehariannya.
Menurut Wikipedia Social Media adalah sebuah teknologi berbasis web dan mobile yang digunakan untuk mengaktifkan komunikasi ke dalam dialog interaktif diantara organisasi, masyarakat, dan individu.
Menurut Kaplan and Haenlein ada 6 tipe social media yaitu, Collaborative Projects (ex : Wikipedia), Blogs & Microblogs (ex : WordPress, Twitter), Content Communities (ex : YouTube, Soundcloud), Social Networking Sites (ex : Facebook), Virtual Game Worlds (ex : World of Warcraft, Mafia Wars) dan Virtual Social Worlds (ex : Second Life). Dari keenam tipe social media tersebut yang paling banyak diminati adalah Blog, Content Communities, Social Networking dan Virtual Game.
Sebuah statistik (sumber http://blog.tweetsmarter.com) menyebutkan sampai Mei 2012 jumlah pengguna Social Media di seluruh dunia adalah Facebook 901jt, Twitter 555jt, Google+ 170jt. Untuk contoh persentase kisaran umur pengguna Facebook adalah 13-17 tahun (11%), 18-25 tahun (29%), 26-34 tahun (23%), 35-44 tahun (12%) dan +55 tahun (7%).
Bisa dibayangkan, berapa status diupdate tiap menitnya di Facebook, berapa jumlah tweet tiap menitnya? Mari kita persempit menjadi Musisi sebagai study case-nya. Bagi sebagian besar musisi, Facebook, Twitter, Myspace, LastFM, Sounscloud, Reverbnation dan Youtube adalah nama-nama yang ‘akrab’ dengan kehidupn sehari-hari mereka.
‘Guys likes page kami’, ‘Silahkan unduh karya kami di ….’, ‘Follow twitter kami guys’ dll. adalah contoh tagline yang bisa ditemui di sebagian akun sebuah band.
Apa sisi positif dan negatif dari social media ini? Apa dampak terbesar dari pertumbuhan pengguna social media bagi komunitas-komunitas musik di Indonesia?

Its been a while since it ‘printed’
‘Apa yang anda lakukan sekarang bila anda menjadi penyelenggara sebuah gigs? Apakah jawaban anda mengupload flyer dan men-tag nama sebanyak-banyaknya?’ sebuah pertanyaan singkat dari salah seorang teman yang membuat saya ingin mengangkat tema ini. Jujur saja, sekarang saya jarang memegang sebuah flyer gigs dalam bentuk cetak. Kebanyakan flyer cetak dibuat terbatas untuk sekedar disebar di titik-titik strategis seperti studio musik, cafe dan lainnya. Dengan menggunakan flyer foto yang kemudian diupload di platform social media, ‘pesan’ yang ingin disampaikan bisa tersampaikan dengan range jarak yang lebih luas dan range waktu yang lebih singkat. Dengan kata lain, lebih efektif dan efisien. Benarkah itu?
Promosi adalah hal yang paling tepat digunakan sebagai alasan seorang musisi membuat sebuah akun social media. Mulai dari akun yang berbayar hingga akun yang gratis dalam proses registrasi-nya. Dalam hitungan detik, sebuah foto bisa diupload, dalam hitungan menit satu lagu atau video bisa dinikmati semuanya. Rasa-rasanya tingkat kompetensi dalam hal promosi menjadi trending topic dalam setiap platform yang ada. Oleh karena itu, kreatifitas si empunya akun ini diuji dengan meng-custom dan me-manage tiap-tiap akunnya dengan baik. Mulai dari design, konten update sampai program-program yang dicanangkan demi merangkul semua elemen.
Ada satu masalah utama dari penggunaan internet bagi musisi, yaitu pembajakan karya melalui illegal download. Namun ada sebagian musisi yang memang memberikan karyanya secara cuma-cuma tergantung kebijakan masing-masing musisi tersebut. Terlepas dari hal tersebut masih banyak masalah lainnya terutama dalam hal berkomunikasi. Bahasa tulisan/teks jelas berbeda dengan bahasa lisan. Dengan membaca sebuah teks, akan menimbukan konteks/reaksi yang berbeda-beda dari setiap pembacanya. Hal ini menjadi salah satu minus dari konten teks di social media. Namun banyak musisi yang menggunakan smart campaign dalam mempromosikan band/musiknya. Banyak pula webzine, portal, newsletter online yang membantu perkembangan para musisi di Indonesia. Dengan kemudahan tersebut, makin banyak pula akun-akun band yang dibuat dalam berbagai platform. Intinya adalah supaya musisi tersebut bisa ‘lebih dekat’ dengan sosial. Sebagai contoh di Twitter, untuk musisi dengan followers puluhan hingga ratusan ribu akan sangat mudah mempromosikan dirinya sendiri, bahkan terkadang mereka di-hire sebagai influencer untuk produk-produk tertentu.
Intinya, Social media telah menjadi salah satu hal primer bagi kebanyakan orang, yang menjadi pendukung mengapa musisi harus memiliki paling tidak satu akun social media. Namun perlu dipelajari how to-nya dalam berkomunikasi dan mempromosikan karya kita.

Berikut adalah tips bagaimana mempromosikan band/musik kalian di Social Media :
1. Pastikan sudah disiapkan user name yang mudah diingat dan dicari (untuk meningkatkan SEO : Search Engine Optimization). Kadang kita menghadapi masalah persamaan nama dengan band/musisi lain, bisa ditambahkan wilayah atau genre untuk mendapat nama yang lebih personal.
2. Isi biography dengan sejelas-jelasnya dan berikan semua contact, link yang bisa diakses untuk menjalin komunikasi. Dari sini anda bisa ‘memperkenalkan diri’, menceritakan sejarah singkat (semacam mini portfolio).
3. Too much words doesn’t makes an attraction, give more images. Bermainlah dengan foto atau gambar yang ada, kecuali untuk microsite seperti Twitter. Secara psikologis, orang akan lebih tertarik dengan info foto daripada info teks dengan banyak huruf didalamnya. Coba googling infographic yang menarik, bisa menjadi influence untuk media kit. One picture can says thousand words.
4. Dont do SPAM! Satu hal yang kadang tidak diperhatikan saat mempromosikan sesuatu adalah hasrat yang terlalu menggebu-gebu untuk membagi banyak hal. Seperti contoh di Twitter, terkadang saat terlalu banyak twit yang dibuat, hasilnya adalah followers yang berkurang. Memang tidak ada peraturan tertulis dalam dunia maya namun ada baiknya diperhatikan kuota info demi kenyamanan bersama.
5. Traffic terbanyak orang mengakses social media biasanya saat santai, yaitu jam 07.00-09.00 (breakfast, perjalanan ke kantor), 12.00-14.00 (makan siang), 17.00-19.00 (perjalanan kerumah, macet) dan 21.00-23.00 (santai dirumah, sebelum tidur).
6. Jangan segan-segan mempromosikan band/figure lain, dari sini akan terjalin komunikasi viral yang akan mengangkat klout kita. Support each others.

fin – (heyckel)

Cover Videos I’ve Made So Far

Cry For You (Andy Timmons) – http://www.youtube.com/watch?v=qP-0YwK5WqE&feature=plcp

Far Beyond The Sun (Yngwie Malmsteen) – http://www.youtube.com/watch?v=kSYqRl2XBrM&feature=plcp

Whispering A Prayer (Steve Vai) – http://www.youtube.com/watch?v=CpY0JsTNteU&feature=plcp

The Preacher (Testament) – http://www.youtube.com/watch?v=0EgFViNWkLk&feature=plcp

Technical Difficulties (Racer-X) – http://www.youtube.com/watch?v=3NlASzxRBU8&feature=plcp

Jibboom (Steve Vai ) – http://www.youtube.com/watch?v=05OJa1bEknA&feature=plcp

The Crying Machine (Steve Vai) – http://www.youtube.com/watch?v=m27T9VH3U-k&feature=plcp

Over The Wall (Testament) – http://www.youtube.com/watch?v=HmY248xd0f8″>&feature=plcp

The Animal (Steve Vai) – http://www.youtube.com/watch?v=3Ts4cOandpY&feature=plcp

Love Thing (Joe Satriani) – http://www.youtube.com/watch?v=oZA8bYzNRrE&feature=plcp

Reptile (Eric Clapton) – http://www.youtube.com/watch?v=8n3jeJZVjDc&feature=plcp

to be continued..
enjoy 🙂